SEORANG AYAH BERTAUBAT DENGAN SEBAB ANAKNYA YANG MASIH BERUSIA 7 TAHUN
Satu lagi, kisah nyata di zaman ini. Seorang penduduk Madinah berusia 37 tahun, telah menikah, dan mempunyai beberapa orang anak. Ia termasuk orang yang suka lalai, dan sering berbuat dosa besar, jarang menjalankan shalat, kecuali sewaktu-waktu saja, atau karena tidak enak dilihat orang lain.
Penyebabnya, tidak lain karena ia bergaul akrab dengan orang-orang jahat dan para dukun. Tanpa ia sadari, syetan setia menemaninya dalam banyak kesempatan.
Ia bercerita mengisahkan tentang riwayat hidupnya:
“Saya memiliki anak laki-laki berusia 7 tahun, bernama Marwan. Ia bisu dan tuli. Ia dididik ibunya, perempuan shalihah dan kuat imannya.
Suatu hari setelah adzan maghrib saya berada di rumah bersama anak saya, Marwan. Saat saya sedang merencanakan di mana berkumpul bersama teman-teman nanti malam, tiba-tiba, saya dikejutkan oleh anak saya. Marwan mengajak saya bicara dengan bahasa isyarat yang artinya, ”Mengapa engkau tidak shalat wahai Abi?”
Kemudian ia menunjukkan tangannya ke atas, artinya ia mengatakan bahwa Allah yang di langit melihatmu.
Terkadang, anak saya melihat saya sedang berbuat dosa, maka saya kagum kepadanya yang menakut-nakuti saya dengan ancaman Allah.
Anak saya lalu menangis di depan saya, maka saya berusaha untuk merangkulnya, tapi ia lari dariku.
Tak berapa lama, ia pergi ke kamar mandi untuk berwudhu, meskipun belum sempurna wudhunya, tapi ia belajar dari ibunya yang juga hafal Al-Qur’an. Ia selalu menasihati saya tapi belum juga membawa faidah.
Kemudian Marwan yang bisu dan tuli itu masuk lagi menemui saya dan memberi isyarat agar saya menunggu sebentar… lalu ia shalat maghrib di hadapan saya.
Setelah selesai, ia bangkit dan mengambil mushaf Al-Qur’an, membukanya dengan cepat, dan menunjukkan jarinya ke sebuah ayat (yang artinya):
”Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa adzab dari Allah Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi syaithan” (Maryam: 45)
Kemudian, ia menangis dengan kerasnya. Saya pun ikut menangis bersamanya. Anak saya ini yang mengusap air mata saya.
Kemudian ia mencium kepala dan tangan saya, setalah itu berbicara kepadaku dengan bahasa isyarat yang artinya, ”Shalatlah wahai ayahku sebelum ayah ditanam dalam kubur dan sebelum datangnya adzab!”
Demi Allah, saat itu saya merasakan suatu ketakutan yang luar biasa. Segera saya nyalakan semua lampu rumah. Anak saya Marwan mengikutiku dari ruangan satu ke ruangan lain sambil memperhatikan saya dengan aneh.
Kemudian, ia berkata kepadaku (dengan bahasa isyarat), ”Tinggalkan urusan lampu, mari kita ke Masjid Besar (Masjid Nabawi).”
Saya katakan kepadanya, ”Biar kita ke masjid dekat rumah saja.”
Tetapi anak saya bersikeras meminta saya mengantarkannya ke Masjid Nabawi.
Akhirnya, saya mengalah kami berangkat ke Masjid Nabawi dalam keadaan takut… Dan Marwan selalu memandang saya.
Kami masuk menuju Raudhah. Saat itu Raudhah penuh dengan manusia, tidak lama datang waktu iqamat untuk shalat isya’, saat itu imam masjid membaca firman Allah (yang artinya),
”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syetan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syetan, maka sesungguhnya syetan itu menyuruh mengerjakan perbuatan keji dan munkar. Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan munkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui” (An-Nuur: 21)
Saya tidak kuat menahan tangis. Marwan yang berada disampingku melihat aku menangis, ia ikut menangis pula. Saat shalat ia mengeluarkan tissue dari sakuku dan mengusap air mataku dengannya.
Selesai shalat, aku masih menangis dan ia terus mengusap air mataku. Sejam lamanya aku duduk, sampai anakku mengatakan kepadaku dengan bahasa isyarat, ”Sudahlah wahai Abi!”
Rupanya ia cemas karena kerasnya tangisanku. Saya katakan, ”Kamu jangan cemas.”
Akhirnya, kami pulang ke rumah. Malam itu begitu istimewa, karena aku merasa baru terlahir kembali ke dunia.
Istri dan anak-anakku menemui kami. Mereka juga menangis, padahal mereka tidak tahu apa yang terjadi.
Marwan berkata tadi Abi pergi shalat di Masjid Nabawi. Istriku senang mendapat berita tersebut dari Marwan yang merupakan buah dari didikannya yang baik.
Saya ceritakan kepadanya apa yang terjadi antara saya dengan Marwan. Saya katakan, “Saya bertanya kepadamu dengan menyebut nama Allah, apakah kamu yang mengajarkannya untuk membuka mushaf Al-Qur’an dan menunjukkannya kepada saya?”
Dia bersumpah dengan nama Allah sebanyak tiga kali bahwa ia tidak mengajarinya. Kemudian ia berkata, “Bersyukurlah kepada Allah atas hidayah ini.”
Malam itu adalah malam yang terindah dalam hidup saya. Sekarang -alhamdulillah- saya selalu shalat berjamaah di masjid dan telah meninggalkan teman-teman yang buruk semuanya. Saya merasakan manisnya iman dan merasakan kebahagiaan dalam hidup, suasana dalam rumah tangga harmonis penuh dengan cinta, dan kasih sayang.
Khususnya kepada Marwan saya sangat cinta kepadanya karena telah berjasa menjadi penyebab saya mendapatkan hidayah Allah.”
( “Da’i Cilik”, Fariq Gasim Anuz, Penerbit: Darul Falah, Jakarta, Indonesia )
dikutip dari:
http://fariqgasimanuz.wordpress.com/2009/02/04/seorang-ayah-bertaubat-dengan-sebab-anaknya-yang-masih-berusia-7-tahun/#comment-14
Apa yang Mesti Dilakukan setelah nabi صلی الله عليه وسلم wafat
Mata menangis dan hati tergoncang. Namun apakah yang harus dilakukan?
Amalkanlah Kitabullah, amalkanlah Kitabullah Ta’ala.
Amalkanlah Sunnah Rasulullahصلی الله عليه وسلم , amalkanlah Sunnah Rasulullah صلی الله عليه وسلم.
Rasulullah صلی الله عليه وسلم telah menerangkan bahwa penyebab kesesatan Yahudi dan Nashrani adalah tidak adanya penerapan Taurat dan Injil. Maka kita wajib untuk beramal dan bersegera menerapkannya.
Kita harus mulai dari awal, yakni pembersihan dan tidak menerima hadits-hadits yang tidak jelas. Karena perkara ini adalah bagian agama, dan perkataan ini adalah syari’at. Maka hendaklah kita perhatikan dari mana kita mengambil agama kita (1).
Dan kita wajib menuntut ilmu dan duduk bersama para ulama.
Marilah kita mencermati wasiat Umar bin Abdul Aziz rahimahullah yang ia tujukan kepada Abu Bakar bi Hazm: “Perhatikanlah dahulu, jika berasal dari hadits Rasulullah صلی الله عليه وسلم maka tulislah. Sesungguhnya aku takut akan sirnanya ilmu dan hilangnya para ulama. Jangan engkau terima kecuali hadits Rasulullah صلی الله عليه وسلم. Hendaklah kalian menebarkan ilmu dan mengadakan majelis-majelis ilmu hingga diajari orang-orang yang tidak tahu. Sesungguhnya ilmu tidak akan binasa hingga menjadi rahasia.” (2)
Menuntut ilmu membuat kita hidup bersama Nabi صلی الله عليه وسلم sebagaimana dikatakan oleh penyair:
Ahlul hadits adalah keluarga Rasul meskipun
Mereka tidak hidup bersamanya namun nafas mereka menemuinya.
Marilah kita menemani Rasulullah صلی الله عليه وسلم dengan meneladani shalatnya.
Marilah kita menemani Rasulullah صلی الله عليه وسلم dengan meneladani shiyamnya.
Marilah kita menemani Rasulullah صلی الله عليه وسلم dengan meneladani zakatnya.
Marilah kita menemani Rasulullah صلی الله عليه وسلم dengan meneladani hainya.
Marilah kita menemani Rasulullah صلی الله عليه وسلم dengan meneladani akhlaknya.
Marilah kita menemani Rasulullah صلی الله عليه وسلم dengan meneladani jihadnya.
Jangan engkau menerima kecuali hadits Nabi -(3)- صلی الله عليه وسلم
Haditsnya adalah obat dan di dalamnya tersimpan keberhasilan.
Di dalamnya tersimpan keselamatan dari fanatic madzhab tertentu.
Di dalamnya tersimpan keselamatan dari fanatic terhadap golongan tertentu.
Di dalamnya hati-hati akan bersatu dan menjadi satu barisan.
Telah menjadi kebiasaan setiap orang yang akan berpisah untuk menulis sebuah wasiat. Apakah Rasulullah صلی الله عليه وسلم telah meninggalkan wasiat untuk kita?
Ya, beliau telah meninggalkan satu rangkuman wasiat dan nasihat.
Abdurrahman bin Amru As-Sullami meriwayatkan dari Al-Irbadh bin Sariyah رضي الله عنه - dia salah seorang yang banyak menangis-, dia berkata Rasulullah صلی الله عليه وسلم melaksanakan shalat Zhuhur kemudian beliau menghadap kami dan menasihatkan kepada kami sebuah nasihat yang mendalam. Karenanya semua mata menangis dan semua hati menjadi luluh. Seorang lelaki lantas berkata, “Ya Rasulullah, sepertinya ini adalah nasihat perpisahan?!” Lantas beliau bersabda:
“Bertakwalah kalian kepada Allah dan mendengar serta TAATLAH meskipun kepada seorang budak bangsa Habasyah. Sesungguhnya orang yang masih hidup di antara kalian sepeninggalku akan melihat banyak perpecahan. Maka wajib atas kalian untuk berpegang dengan SUNNAHKU dan SUNNAH PARA KHILAFAH setelahku yang diberi hidayah lagi berada di atas petunjuk, GIGITLAH dengan GERAHAM kalian. Dan jauhilah berbagai hal yang baru (yang DIADA-ADAKAN dalam agama), sesungguhnya setiap bid’ah adalah sesat.” (4)
Maka wasiat ini wajib dicermati.
Kita harus hidup bersama wasiat ini.
Kita harus menginganya dalam setiap urusan dari kehidupan kita. Di saat memperoleh kelezatan dan kesenangan, di saat tertimpa kepedihan dan kesedihan… dalam kondisi aman maupun fitnah dan di saat bersatu maupun berselisih karena wasiat ini meyimpan jalan menuju kebahagiaan dan rahasi menuju kesuksesan.
Note:
(1) Dari perkataan Muhammad bin Sirin. Dia berkata: “Sesungguhnya ilmu ini adalah agama maka hendaklah kalian melihat dari siapakah kalian mengambil agama kalian.” Dari mukaddimah Shahih Muslim.
(2) Dari Shahih Al-Bukhari, Kitabul Ilmu, Bab: Kaifa yqbaduhul ilmu secara mu’allaq dalam bentuk jazm. Al-Hafizh menyebutkan bahwa Abu Nu’aim menghukuminya bersambung dalam Akhbar Ashbahan dengan semisalnya.
Inilah yang kami (penulis, red) lihat dan kami rasakan sendiri pada kelompok-kelompok hizbiyah dan majelis-majelis rahasia mereka. Hanya kepada Allah sajalah segala pengaduan tertuju.
(3) Bukan berarti tidak ada istifadah dari perkataan para ulama, tafisr mereka dan hokum yang mereka tetapkan. Bahkan kesesatan akan muncul jjika meninggalkan kitab-kitab mereka dan ilmu mereka. Sebagaimana kesesatan itu juga muncul dengan fanatic terhadap perkataans ebagian mereka atau mengedepankannya di atas hadits Nabi صلی الله عليه وسلم
(4) Sanadnya shahih dan para rawinya terpercaya sebagaimana tercantum dalam kitab As-Sunnah karya Ibnu Abi Ashim, no.54, 1037 dan 1045.
Dikeluarkan oleh Abu Daud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan lainnya.
Saya (penulis, red) telah membahasnya dalam satu tulisan khusus dengan judul washiyyah Muwaddi’. Semoga Allah memudahkan penerbitannya sehingga saya tidak perlu membahasnya secara detail di sini.
sumber:
Terputusnya Wahyu dari Langit oleh Syaikh Husain al-Awayisyah hal. 140-144
Kisah Seuntai Kalung mutiara
Judul Asli: The Pearl Necklace
Dinukil dari: ‘Gems and Jewels From the Salaf’
هَلْ جَزَاء الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ
"Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula)." (QS Ar-Rahman : 60)
Qadhi Abu Bakar Muhammad bin Abdul Baqi al-Anshari tinggal di Makkah. Setelah melewati waktu yang lama tanpa makanan lebih dari apa yang bisa ditahannya dia menjadi kelaparan dan tidak ada sesuatu yang dapat ditemukan untuk menghilangkan rasa laparnya. Ketika ia berjalan di kota Makkah memikirkan keadaannya, ia menemukan sebuah sebuah tas sutera yang diikat oleh tali sutera pula. Lalu ia mengambilnya dan membawanya pulang ke rumah. Disana ia membuka tas tersebut dan mendapatkan seuntai kalung mutiara yang tidak pernah ia lihat yang seindah dan dan bernilai seperti kalung itu selama hidupnya.
Namun, jika dia merasa begitu bergembira menemukan barharga berharga seperti itu, kegembiraan itu seketika menghilang, karena ketika ia keluar ke jalan, ia bertemu dengan seorang tua yang mengumumkan bahwa ia telah kehilangan sebuah tas sutera yang berisi kalung yang sangat berharga. Orang tua tersebut berkata bahwa tersedia hadiah sebesar 500 dinar bagi orang yang mengembalikan tas beserta kalung itu. Banyak orang telah diuji dengan tes serupa (maksudnya pencarian kalung tersebut -pent) mengalami kegagalan, khususnya orang-orang miskin dan orang-orang sangat tergoda dengan nilai benda tersebut. Namun tidak demikian halnya dengan Imam Abu Bakar. Bukannya memikirkan keadaan dirinya, mengajak orang tua itu ke rumahnya dan memintanya untuk menggambarkan tas tersebut, tali pengikat tas, mutiara, serta rantai pengikat mutiara tersebut. Orang tua itu tentu saja memberikan gambaran yang tepat mengenai segala hal, sehingga Imam Abu Bakar mengambil benda yang hilang tersebut dan memberikan kepadanya.
Orang tua itu segera mengambil uang 500 dinar dan mencoba memberikannya kepada Imam Abu Bakar. Namun Imam Abu Bakar menolaknya dan mengatakan bahwa adalah kewajibannya dalam agama untuk mengembalikan barang yang hilang tersebut dan oleh sebab itu tidak pantas baginya untuk mengambil hadiah setelah memenuhi kewajiban tersebut. Orang tua tersebut berusaha untuk memaksa selama beberapa saat, akan tetapi Imam Abu Bakar bersikeras bahwa ia tidak akan mengambil uang itu.
Orang tua itu pun kemudian pamit dan pergi.
Tidak lama setelahnya, Imam Abu Bakar berpikir untuk mencari kehidupan yang lain dan sumber penghidupan yang baru, ia meninggalkan kota Makkah dan menjadi penumpang sebuah Kapal. Dalam perjalanannya, kapal tersebut tenggelam. Dan sebagai akibatnya banyak orang yang meninggal, tenggelam besama kapal ke dasar laut. Kapal tersebut pecah berkeping-keping, dan dengan susah payah Imam Abu Bakar berhasil berpengangan pada salah satu potongan kapal dan tetap mengapung. Ia terus berpegangan pada potongan kapal tersebut selama waktu yang panjang dan ketika ia terdampar pada sebuah pulau yang berrpenghuni, ia tidak mengingat berapa lama ia telah mengapung sendirian di tengah laut.
Sebagai orang baru di pulau itu, ia tidak mengenal seorang pun, dan ia membutuhkan tempat untuk beristirahat dan memulihkan dirinya. Ia duduk di sebuah Masjid. Ketika duduk di dalam masjid sambil membaca Al-Qur’an banyak orang yang mendengarkan dan mendekatinya, memintanya untuk mengajarkan Al-Qur’an. Dia merasa sangat gembira mengajar mereka. Dan sebagai balasan atas jasanya (mengajar) mereka membayarkan dengan sejumlah besar uang. Kemudian dia menemukan mushaf Al-Qur’an. Akhirnya ia mendapatkan kesempatan untuk membaca langsung dari Al-Qur’an dan tidak sekedar membacanya berdasarkan ingatannya.
Ternyata setidaknya sebagian besar penduduk pulau tersebut buta huruf. Melihat ia bisa membaca, pemimpin orang-orang itu mendekatinya dan bertanya apakah dia dapat menulis. Dia membenarkannya. Maka orang-orang itu pun berkata; ”Ajarilah kami menulis.” Mereka kemudian membawa anak-anak dari segala umur kepadanya dan dia kemudian menjadi guru mereka. Dan dia (imam Abu Bakar) kembali mendapat bayaran yang sangat besar.
Merasa senang dengan kepribadian dan ilmu sang pendatang baru, pemimpin pulau itu mendekatinya dan berkata: ”Diantara kami hidup seorang gadis muda yatim yang kaya, dan kami ingin engkau menikahinya.” Pada awalnya Imam Abu Bakar menolaknya namun mereka terus memaksanya. Akhirnya ia menyerah dan setuju untuk menikahi gadis itu.
Pada hari pernikahannya, pemimpin pulau itu menghadirkan pengantin kehadapan Imam Abu Bakar. Dengan sorot mata penuh takjub, ia mulai menatap pada kalung yang dikenakan gadis itu. Begitu lama ia terpaku menatapnya hingga pemimpin pulau itu berkata: ”Engkau telah menyakiti hati gadis ini, karena bukannya menatapnya engkau malah menatap kalungnya.”
Imam Abu Bakar kemudian menceritakan kisahnya dengan seorang laki-laki tua di Makkah. Orang-orang yang hadir lalu bersyahadat dan bertakbir. Suara mereka begitu keras hingga dapat terdengar oleh seluruh penghuni pulau tersebut.
Imam Abu Bakar berkata, ”Ada apa dengan kalian?”
Mereka berkata: ”Orang tua yang mengambil kalung itu darimu adalah ayah dari gadis ini dan ia selalu berkata: ’Saya belum pernah menemukan seorang Muslim yang sejati dan ikhlas di dunia ini kecuali orang yang mengembalikan kalung ini’, dan dia selalu berdoa: ”Ya Allah, pertemukanlah aku dengan laki-laki itu agar aku dapat menikahkan puteriku dengannya.’” Dan kini, hal tersebut menjadi kenyataan.
Imam Abu Bakar tetap hidup manakala isteri dan anak-anaknya meninggal, dan mewarisi kalung tersebut. Dan kemudian dia menjualnya seharga 100.000 dinar. Ia menjadi seorang yang kaya raya di akhir hidupnya.
Dr. Saleh As-Saleh dalam audio lecture beliau juga membacakan kisah ini. Beliau berkata bahwa ini adalah sebuah kisah yang menakjubkan yang dibawakan oleh Ibnu Rajab dalam komentarnya terhadap biografi Qadhi Abu Bakar Muhammad bin Abdul Baqi (wafat 535 H) dalam Tahabaqat al-Hanabilah, sebagaimana yang dikisahkan Al-Qadhi Abu Bakar kepada Al-Baghdadi.
dikutip dari:
http://www.khayla.net/2009/05/pearl-necklace.html
Kisah menakjubkan yang lain:
Unta Betina, Sedekah yang Mwmbawa Berkah
Kisah Taubat Malik bin Dinar
Antara Syirik dan Dosa Besar
Buah dari Kesabaran
Link yang berhubungan:
dan Syaikh Albanipun menangis
Kajian 2 Mei 2009
Alhamdulillah..
Kajian ini diisi oleh Ustadz Abu Umar mengenai "adab salam"
di Mesjid Darrudda'wah, Jl. Pelesiran (Taman Sari), Bandung
Silahkan di-download di sini
kajian sebelumnya mengenai topik yang sama
bisa di-download di sini
Semoga bermanfaat.
Ayah,, Ibu,, ternyata..!!!
Sahabat-sahabatku yang tercinta,,
kali ini,, saya ingin sekali berbagi
tentang berbakti kepada kedua orang tua
Sungguh,, renungilah artikel ini...
Artikel yang InsyaAllah bisa membuka hati kita
untuk memahami keadaan orang tua kita dan
bagaimana seharusnya kita bersikap kepada mereka
Semoga Allah senantiasa memberikan keberkahan kepada kita semua...
Robbyghfirly wa li walidaiya warhamhumma kama robbayaani shoghiro
Pengorbanan Cinta
“Pengorbanan cinta kepada Sang Pencipta memiliki dua ciri;
pertama, mengerjakan pekerjaan yang dicintai Alloh
walaupun jiwamu sangat membenci dan menghindar darinya.
Kedua, meninggalkan segala sesuatu yang dibenci oleh Alloh
walaupun jiwamu sangat mencintai dan menyukainya”
(Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah rohimahulloh dalam Toriqul Hijrotain)
Cobaan
Mungkin banyak di antara kita sekarang yang bertanya-tanya, kenapa waktu demikian sempit? Padahal ada banyak banget tugas yang harus diselesaikan. Mulai dari PR, laporan, sampe persiapan belajar buat ujian. Padahal pas liburan, tanpa tugas, PR, laporan,... hmm... enak banget deh pokoknya. Tapi sekarang? Rasanya kita benar-benar dikejar oleh waktu.
Kita pasti udah sering denger, waktu adalah bentuk cobaan dari Allah. Selain waktu, masih banyak banget bantuk cobaan yang Allah berikan selama kita hidup. Waktu cuma salah satunya. Firman Allah Ta'ala:
" Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami." (QS Al-Anbiya:35)
Ibnu Abbas pernah berkata," Allah menguji kalian dengan kesengsaraan dan kenimatan, sehat dan sakit, kaya dan fakir, halal dan haram, taat dan maksiat, petunjuk dan kesesatan." (Tafsir At-Thibari 11/240)
Nah, kita emang harus sadar, hidup itu penuh dengan cobaan. Cobaan itu nggak cuma yang jelek-jelek aja lho. Sesuai ayat di atas, Allah juga ngasih cobaan berupa kebaikan. Sekarang coba kita inget-inget, kapan terakhir kita punya waktu luang? kalo udah inget kapan, sekarang coba kita inget waktu luang itu kita pake buat apa? Apakah untuk kebaikan atau justru untuk kemungkaran? Nah, waktu luang ini juga bentuk cobaan dari Allah lho Kelihatannya nikmat banget punya waktu luang kan? Tapi dibalik itu, Allah memberikan cobaan, gimana sih cara kita memanfaatkan waktunya? Kalo kita habiskan dengan sia-sia bahkan dengan suatu maksiat,,, hmmm ... kita ga lulus ujian dari Allah tuh,,,
dikutip dari Buletin Keluarga Mahasiswa Islam Teknik Kimia ITB
Kenapa Ada ujian dari Allah?
Beberapa alasan Allah menguji hamba-hamba-Nya:
1. Untuk mengetahui siapa hambaNya yang penyabar.
"Dan Sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang- orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu; Dan agar kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu." (QS Muhammad: 31)
2. Agar diketahui ahli surga dan ahli neraka
"Supaya Allah memisahkan (golongan) yang buruk dari yang baik dan menjadikan (golongan) yang buruk itu sebagiannya di atas sebagian yang lain, lalu kesemuanya ditumpukkannya, dan dimasukkannya ke dalam neraka Jahannam. Mereka itulah orang-orang yang merugi." (QS Al-Anfal:37)
3. Agar diketahui mana orang yang bersyukur dan mana yang kufur.
"Dan ingatlah juga tatkala Rabb-mu memaklumkan, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzabKu sangat pedih."" (QS Ibrahim:7)
4. Agar diketahui mana hamba-Nya yang paling sholih dan paling bagus amalannya.
"Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya." (QS Al-Kahfi:7)
Kajian 25 April 2009

Assalamu'alaikum,,
Kajian ini diisi oleh Ustadz Abu Isa
di Mesjid Darudda'wah di Jl. Pelesiran (Taman sari), Bandung
Silahkan di download di sini
Semoga bermanfaat.
Kajian 6 Maret 2009
Assalamu'alaikum,,
Alhamdulillah, sahabat semua,,
Silahkan menikmati sebuah kajian mengenai Asma Allah Ta'ala
di Mesjid Darrudda'wah di Jl. Pelesiran (Taman sari), Bandung
di sini. Kajian ini diisi oleh Ustadz Abu Isa.
Semoga bermanfaat.
Mencintai karena Nya
Assalamu'alaikum ...
sahabat-sahabat ku yang tercinta yang semoga Allah selalu memberikan taufik kepada kita semua...
Betapa indahnya nikmat iman dan islam itu...
Sangat tentram hati ini dikala kita kembali kepada Nya
Ingin rasanya ketentraman, keindahan, kelezatan iman seperti ini terus melekat dalam diri
Tercabik-cabik hati ini ketika teringat dosa yang menggunung dalam diri
Kitapun ingin menjaga diri ini dengan saling berteman dengan orang-orang yang shalih
Ketika rasa Kasih sayang Nya yang datang kita sadari, rasa cinta kepada Nya membuncah seketika
Tersungkurlah diri ini di hadapanNya..
Tidak ada kenikmatan yang lebih sempurna selain bersujud kepadaNya
Begitulah fitrah seorang hamba
yang selalu membutuhkanNya...
Kitapun ingin membagi kebahagiaan kepada sesama
merasakan keindahan itu bersama-sama
terus dan terus bersama..
Saling mengingatkan satu sama lain
walau hanya dari cerminan sikap
bahkan diamnya dari seribu kata
Tak terasa terpautlah hati ini kepadanya
mencintai kebenaran yang ada pada dirinya
bahagia rasanya melihat engkau selalu kembali pada Nya
yang akhirnya membuatku semakin mencintaiNya
Wahai sahabat-sahabatku..
Rosululloh shallaallahu 'alaihi wa sallam pernah bercerita tentang suatu ukhuwah yang dijalani atas cinta dan benci karena Alloh, tanpa pamrih duniawi apapun akan menghasilkan kecintaan Alloh bagi seorang muslim.
Dari Abu Hurairoh, Rosululloh bersabda :
Ada seorang lelaki mengunjungi kawannya di kampung lain. Kemudian Alloh mengutus malaikat untuk mengintai perjalanannya. Malaikat itu mendatanginya lalu berkata: “Kemana engkau akan pergi ?” Ia menjawab “Saya ingin mengunjungi saudaraku di kampung ini” Sang Malaikat bertanya: “Apakah ada tanggungan yang mesti engkau bayarkan kepadanya ?” Ia menjawab: “tidak. Saya mengunjungi Tiada lain karena aku mencintainya karena Alloh.” Sang Malaikat kemudian mengatakan: “Sesungguhnya aku ini utusan Alloh, ingin mengabarkan bahwa Alloh telah mencintaimu sebagaimana engkau mencintai orang itu karena-Nya.”
[HR. MUSLIM NO. 4656]
Wahai sahabat-sahabtku,,
Semoga Allah senantiasa menjaga kita semua
Yang selalu mengharapkan ampunan dan rahmatNya
-Julian Haris-
Read More..
The Gems

"There have been such gems amongst us..
..who changed the course of world..
because they could look at world differently.
Their thinking was unique..
..and not everyone understood them.
They were opposed.
Yet they emerged winners..
..and the world was amazed."
It's unbelievable.....
Sugoiiii...!!!!!!!!!!
Subhanallah...
Ganbatte ne..
Read More..




